Teori Belajar Menurut Bruner Pada Pembelajaran IPA

TEORI BELAJAR MENURUT BRUNER

Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan, sebagaimana nampak dalam pandangannya tentang perkembangan kognitif anak dan ahli psikologi belajar kognitif. Namun Bruner tidak mengembangkan suatu teori bulat tentang belajar sebagaimana dilakukan oleh Gagne. Yang penting baginya ialah cara – cara bagaimana orang memilih, mempertahankan dan mentranspormasi informasi secara aktif dan inilah menurut Bruner inti dari belajar. Bruner memusatkan perhatiannya pada masalah apa yang dilakukan oleh manusia dengan informasi yang diterimanya dan apa yang dilakukannya sesudah memperoleh informasi untuk mencapai pemahaman.

A. BEBERAPA TEORI BRUNE

1. Empat Tema Tentang Pendidikan

Bruner mengemukakan empat tema pendidika tema – tema tersebut adalah :

a. Struktur pengetahuan

Kurikulum hendaknya mementingkan struktur pengetahuan. Hal ini perlu sebab dengan struktur pengetahuan kita menolong para siswa untuk melihat bagaimana fakta – fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain dan pada informasi yang telah mereka miliki

b. Kesiapan (readines) untuk belajar

Menurut Bruner (Dahar ; 1989 : 98), kesiapan terdiri atas penguasaan keterampilan – kereampilan yang lebih sederhana yang dapat mengijinkan seseorang untuk mencapai keterampilan – keterampilan yang lebih tinggi.

c. Intuisi dalam proses pendidikan

Dengan intuisi dimakusdkan oleh Bruner, teknik – teknik intelektual untuk sampai pada formulasi – formulasi tentatif tanpa melalui langkah – langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi – fomulasi itu merupakan kesimpulan – kesimpulan yang sahih atau tidak.

d. Motivasi atau keinginan untuk belajar

Pengalaman – pengalaman pendidikan yang menyebabkan terjadinya motivasi adalah pengalaman – pengalaman dimana siswa berpartisipasi secara aktif. Menurut Bruner pengalaman belajar semacam ini misalnya pengalaman belajar penemuan.

2. Model dan Kategori Teori Bruner didasarkan pada dua asumsi.

Asumsi pertama ialah bahwa perolehan penegtahuan merupakan suatu proses interaktif, asumsi kedua ialah bahwa orang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya. Hal ini yang disebut dengan kerangka kognitif yang oleh Bruner disebut “Model of the World” atau model alam. Setiap model seseorang khas bagi dirinya.

Dalam menciptakan kerangka kognitif ini manusia tidak membiarkan diri didominasi oleh lingkup hidup tetapi bersikap menyoroti apa yang dijumpainya dan bertekad memberikan suatu makna pada pengalamannya. Pengalaman yang diberi makna itu bertambah – tambah dan bertumpuk – tumpuk sehingga lama kelamaan menyerupai suatu bangunan mental yang bagian – bagiannya terintegrasi satu sama lain. Bangunan struktural ini dapat dibayangkan suatu arsip yang luas secara kualitaitf dan kuantitatif atau sebagai ingatan (memory) pada komputer dengan kapasitas megabit yang besar. Di dalam mengembangkan bangunan mental ini pembentukan konsep memegang peranan yang besar, demikian pula pengembangan sistematika untuk menumpang konsep – konsep dalam susunan hierarkis (semacam peta konsep) mengingat isi konsep dan peta konsep berbeda beda pada setiap orang, maka kerangka kognitif tidak ada yang seluruhnya sama diantara orang – orang. Setiap bangunan mental bersifat individual, sehingga cara menanggapi sesuatu secara obyektif sama dapat sangat berlainan (Winkel).

Kerangka kognitif yang telah terbentuk, tidak bersifat statis dan dapat berubah, lebih – lebih pada manusia muda yang masih belajar di sekolah. Perubahan ini terjadi karena pergeseran pada konsep yang sudah dimiliki dan pada susunan hierarki konsep yang digunakan sebelumnya. Selama belajar siswa harus menemukan sendiri struktur dasar dari materi pelajaran dan akhirnya dari bidang studi bersangkutan melalui corak berpikir yang disebut ”berpikir induktif” (induktive reasoning) corak berfikir bertitik tolak dari sejumlah contoh dan mencari kaidah yang terkandung dalam contoh – contoh itu.

Dengan kata lain menurut Dahar (1989 : 100), pendekatan Bruner terhadap belajar dapat diuraikan sebagai suatu pendekatan kategorisasi. Bruner beranggapan bahwa semua interaksi – interaksi kita dengan alam melibatkan kategori – kategori yang di butuhkan bagi pempungsian manusia. Kategorisasi menyederhanakan kekompleksan dalam lingkungan kita. Karena sistem kategori kita dapat mengenal obyek – obyek baru. Oleh karena obyek – obyek baru memiliki kemiripan dengan obyek – obyek yang telah ada, kita dapat mengklasifikasikan dan memberikan ciri – ciri tertentu pada benda – benda atau gagasan baru.

Ringkasnya, Bruner beranggapan bahwa belajar merupakan pengembangan kategori – kategori dan pengembangan suatu sistem pengkodean (Coding). Berbagai kategori saling berkaitan sedemikian rupa, sehingga setiap individu mempunyai model yang unik tentang alam. Dalam model ini belajar baru dapat terjadi dengan mengubah model itu. Hal ini terjadi melalui pengubahan kategori – kategori, menghubungkan kategori dengan suatu cara baru atau dengan menambahkan kategori – kategori baru. Jadi pendapat Dahar dan pendapat Winkel tentang pendekatan Bruner hampir mirip.

3. Belajar Sebagai Proses Kognitif

Bruner mengemukakan, bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu ialah (1) Memperoleh informasi baru, (2) Transfomasi informasi, dan (3) Menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Bruner dalam Dahar ; 1989 : 101).

Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi itu dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. Sebagai contoh seorang setelah mempelajari bahwa darah itu beredar, barulah ia mempelajari secara terperinci sistem peredaran atau sistem sirkulasi darah. Demikian pula, setelah berpikir bahwa energi itu di buang – buang atau tidak di hemat, baru ia belajar teori konservasi energi.

Dalam transpormasi pengetahuan seseorang memperlakukan pengetahuan agar cocok atau sesuai dengan tugas baru. Jadi, transpormasi menyangkut cara kita

memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi, atau dengan mengubah menjadi bentuk lain. Kita menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan dengan menilai apakan cara kita memperlakukan pengetahuan itu cocok dengan tugas yang ada.

Bruner menyebut pandangannya tentang belajar atau petumbuhan kognitif sebagai konseptulisme instrumental. Pandangan ini berpusat pada dua prinsip, yaitu : (1) Pengtahuan seseorang tentang alam didasarkan pada model – model tentang kenyataan yang di bangunnya, dan (2) Model – model semaca itu mula – mula di adopsi dari kebudayaan seseorang, kemudian model – model itu di adaptasikan pada kegunaan bagi orang bersangkutan.

Persepsi seseorang tentang suatu peristiwa merupakan sesuatu proses konstruktif. Dalam proses ini orang itu menyusun suatu suatu hipotesis dengan menghubungkan data inderanya pada model yang telah disusunya tentang alam, lalu menguji hipotesisnya terhadap sifat – sifat tambahan dari peristiwa itu. Jadi, seorang pengamat itu tidak di pandang sebagai organisme reaktif yang pasif tetapi sebagai seorang yang memilih informasi secara aktif, dan membentuk hipotesis perseptual.

4. Belajar Penemuan

Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari Jerome Bruner yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning) (Dahar ; 1989 : 103). Bruner menganggap, bahwa belajar penemuan seusuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuhan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar – benar bermakna. Belajar bermakna dengan arti seperti di atas, merupakan satu – satunya macam belajar yang mendapat perhatian Bruner.

Bruner menyarankan agar siswa – siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi secara aktif dengan konsep – konsep dan prinsip – prinsip, agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen – eksperimen yang mengijinkan mereka untuk menemukan prinsip – prinsip itu sendiri.

Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukan beberapa kebaikan. Pertama, pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat di ingat, atau lebih mudah di ingat, bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara – cara lain. Kedua, hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik daripada hasil belajar lainnya. Dengan lain perkataan, konsep – konsep dan prinsip yang dijadikan milik kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi – situasi baru. Ketiga, secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secara bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan – keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah.

B. MENERAPKAN MENGAJAR PENEMUAN

Salah satu dari model – model intrusional kognitif yang paling berpengaruh ialah mobel belajar penemuan Jerome Bruner. Dalam bagian ini akan di bahas bagaimana menerapkan belajar penemuan pada siswa, ditinjau dari segi metode, tujuan, serta peranan guru.

  1. Metode dan Tujuan

Dalam belajar penemuan, metode dan tujuan tidak sepenuhnya seiring. Tujuan belajar bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan saja. Tujuan belajar sebenarnya ialah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih kemampuan – kemampuan intelektual para siswa, dan merangsang keingintahuan mereka dan meotivasi kemampuan mereka. Inilah yang dimaksud dengan memperoleh penengetahuan melalui belajar penemuan.

Jadi, kalau kita mengajarkan sains misalnya, kita bukan akan menghasilkan perpustakaan – perpustakan hidup kecil tentang sains, melainkan kita ingin membuat anak – akan berpikir secara matematis bagi dirinya sendiri, berperan serta dalam proses peroleh pengetahuan. Mengetahui itu adalah suatu proses, bukan suatu produk.

Apakah implikasi ungkapan Bruner itu ? Tujuan – tujuan mengajar hanya dapat diuraikan secara garis besar, dan dapat dicapai dengan cara – cara yang tidak perlu sama oleh para siswa yang mengikuti pelajaran yang sama itu.

Dengan mengajar seperti yang dimaksud oleh Bruner ini, bagaimana peranan guru dalam proses belajar mengajar? Dalam belajar penemuan siswa mendapat kebebasan sampai bata – batas tertentu untuk menyelidiki, secara perorangan atau dalam suatu tanya jawab dengan guru, atau oleh guru dan/atau siswa – siswa lain, untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru, atau oleh guru siswa – siswa bersama – sama. Dengan demikian jelas, bahwa peranan guru lain sekali bila dibandingkan dengan peranan guru yang mengajar secara klasikal dengan metode ceramah. Dalam belajar penemuan ini guru tidak begitu mengendalikan proses belajar mengajar.

  1. Peranan Guru

Dalam belajar penemuan, peranan guru dapat dirangkum sebagai berikut :

  • Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah – masalah yang tepat untuk diselidiki oleh para siswa.
  • Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi pelajar itu dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan, misalnya dengan penggunaan fakta- fakta yang berlawanan. Guru hendaknya mulai dengan sesuatu yang sudah dikenal oleh siswa – siswa. Kemudian guru mengemukakan sesuatu yang berlawanan. Dengan demikian terjadi konflik dengan pengalaman siswa. Akibatnya timubullah masalah. Dalam keadaan ideal, hal yang berlawanan itu menimbulkan suatu kesangsian yang merangsang para siswa untuk menyelidiki masalah itu, menyusun hipotesis – hipotesis, dan mencoba menemukan konsep – kosep atau prinsip – prinsip yang mendasari masalah itu.
  • Untuk menjamin keberhasilan belajar, guru hendaknya jangan menggunakan cara penyajian yang tidak sesuai dengan tingkat kognitif siswa. Disarankan agar guru mengikuti aturan penyajian dari enaktif, ikonik, lalu simbolik. Perkembangan intelektual diasumsikan mengikuti urutan enaktif, ikonik, dan Jadi demikian pula harapan tentang urutan pengajaran.
  • Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendaknya jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari, tetapi ia hendaknya memberikan saran-saran bilamana diperlukan. Sebagai seorang tutor, guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat. Umpan balik sebagai perbaikan hendaknya diberikan dengan cara sedemikian rupa sehingga siswa tidak tetap tergantung pada pertolongan guru. Akhirnya siswa harus melakukan sendiri fungsi tutor itu.
  • Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan. Seperti kita ketahui, tujuan – tujuan tidak dapat dirumuskan secara mendetail, dan tujuan – tujuan itu tidak sama untuk berbagai siswa. Lagi pula tujuan dan proses tidak selalu seiring. Secara garis besar, tujuan belajar penemuan ialah mempelajari generalisasi – generalisasi dengan menemukan sendiri generalisasi – generalisasi itu. Di lapangan, penilaian hasil belajar penemuan meliputi pemahaman tentang prinsip – prinsip dasar mengenai suatu bidang studi, dan kemampuan siswa untuk menerapkan prisip – prinsip itu pada situasi baru. Untuk maksud ini bentuk tes dapat berupa tes objektif atau tes essay

Sumber:

Tim Dosen. 2000. Pendidikan IPA di SD. Bandung: UPI

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *