Penyusunan Penilaian Tes Lisan dalam Pembelajaran bagi Mahasiswa PGSD Universitas Muhammdiyah Purwokerto

 A.    Pengertian dan Teori  Tentang Tes Lisan

   Istilah tes berasal dari bahasa Prancis Kuno yaitu  “testum” yang berarti piring untuk menyisihkan logam mulia. Dalam bahasa Indonesia tes diterjemahkan sebagai ujian atau percobaan. Di dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) Daring, tes berarti ujian tertulis, lisan, atau wawancara untuk mengetahui pengetahuan, kemampuan, bakat, dan kepribadian seseorang.

    Menurut Allen Philips (1979: 1-2) “A test is commonly difined as a tool or instrument of measurement that is used to obtain data about a specific trait or characteristic of an individual or group”. (Test biasanya diartikan sebagai alat atau instrumen dari pengukuran yang digunakan untuk memperoleh data tentang suatu karakteristik atau ciri yang spesifik dari individu atau kelompok).

Overton, Terry (2008): “test is a method to determine a student’s ability to complete certain tasks or demontstrate mastery of a skill or knowledge of content. Some types would be multiple choice tests or a weekly spelling test. While it commonly used interchangeably with assesment, or even evaluation, it can be distinguished by the fact  that a test is one form of an assesment”. (Tes adalah suatu metode untuk menentukan kemampuan siswa menyelesaikan sejumlah tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan pada suatu materi pelajaran. Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja mingguan. Seringkali penggunaannya tertukar dengan asesmen, atau bahkan evaluasi (penilaian), yang mana sebenarnya tes dapat dengan mudah dibedakan berdasarkan kenyataan bahwa tes adalah salah satu bentuk asesmen).

Menurut Norman dalam Djaali dan Muljono (2008: 7), tes merupakan salah satu prosedur evaluasi yang komprehensif, sistematik, dan objektif yang hasilnya dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dalam proses pengajaran yang dilakukan oleh guru.

Menurut Sudijono (2011: 67), tes adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaan-pertanyaan (yang harus dijawab), atau perintah-perintah (yang harus dikerjakan) oleh testee, sehingga (atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut) dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee; nilai mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai oleh testee lainnya atau dibandingkan dengan nilai standar tertentu.

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengevaluasi individu maupun kelompok yang mempunyai standar objektif untuk mengamati satu atau lebih karakteristik seseorang yang hasilnya dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah di tentukan.

Ada beberapa istilah yang memerlukan penjelasan sehubungan dengan uraian diatas yaitu test, testing, tester dan testee, yang masing-masing mempunyai pengertian berbeda namun erat kaitannya dengan tes. Berikut ini penjelasan dari istilah-istilah tersebut:

  1. Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian.
  2.  Testing berarti saat dilaksanakannya pengukuran dan penilaian atau saat pengambilan tes.
  3. Tester artinya orang yang melaksanakan tes atau orang yang diserahi untuk melaksanakan pengambilan tes terhadap para responden.
  4. Testee adalah pihak yang sedang dikenai tes.

Tes sebagai salah satu teknik pengukuran dapat didefinisikan “A test will be defined as a systematic procedure for measuring a sample of an individual’s behaviour” (Brown,1970:2). Definisi tersebut mengandung dua hal pokok yang perlu di perhatikan dalam memahami makna tes, yaitu:

  1. Systematic Procedure” yang artinya bahwa suatu tes harus disusun, dilaksanakan (diadministrasikan) dan diolah berdasarkan aturan-aturan tertentu yang telah ditetapkan. Sistematis di sini meliputi tiga langkah, yaitu:
    1. Sistematis dalam isi, artinya butir-butir soal (item) suatu tes hendaknya disusun dan dipilih berdasarkan kawasan dan ruang lingkup tingkah laku yang akan dan harus diukur atau dites, sehingga tes tersebut benar-benar tingkat validitasnya dapat dipertanggungjawabkan,
    2. Sistematis dalam pelaksanaan (administrasi) artinya tes itu hendaknya dilaksanakan dengan mengikuti prosedur dan kondisi yang telah ditentukan ; dan
    3. Sistematis di dalam pengolahannya, artinya data yang dihasilkan dari suatu tes diolah dan ditafsirkan berdasarkan aturan-aturan dan tolak ukur (norma) tertentu.
    4.  “Measuring of an individual’s is behaviour” yang artinya bahwa tes itu hanya mengukur suatu sampel dari suatu tingkah laku individu yang dites. Tes tidak dapat mengukur seluruh (populasi) tingkah laku, melainkan terbatas pada isi (butir soal) tes yang bersangkutan.

Suatu tes akan berisikan pertanyaan-pertanyaan dan atau soal-soal yang harus dijawab dan atau dipecahkan oleh individu yang dites (testee), maka disebut tes hasil belajar (achievement test). Hal ini sependapat dengan seorang ahli yang menyatakan bahwa “The type of ability test that describes what a person has learned to do is called an achievement test” (Thordike & Hagen, 1975:5). Berdasarkan pendapat itu, tes hasil belajar biasanya terdiri dari sejumlah butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tertentu (ada yang mudah, sedang, dan sukar). Tes tersebut harus dapat dikerjakan oleh siswa dalam waktu yang sudah ditentukan. Oleh karena itu, tes hasil belajar merupakan power test. Maksudnya adalah mengukur kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan atau permasalahan.

Tes merupakan serangkaian soal yang harus dijawab oleh siswa. Dalam hal ini, tes hasil belajar dapat digolongkan kedalam tiga jenis berdasarkan bentuk pelaksanaanya, yaitu (a) tes lisan, (b) tes tulisan, dan (c) tes tindakan atau perbuatan.

Tes lisan / oral tes, adalah penilaian yang diberikan secara lisan dan jawaban dari testi juga secara lisan, biasanya bentuk soal yang diberikan adalah pilihan ganda, uraian terbatas dan benar-salah (Wahyudin, dkk, 2006).

Arifin (2011: 148) dalam bukunya menjelaskan, Tes lisan adalah tes yang menuntut jawaban dari peserta didik dalam bentuk lisan. Peserta didik akan mengucapkan jawaban dengan kata-katanya sendiri sesuai dengan pertanyaan atau perintah yang diberikan. Tes lisan dapat berbentuk seperti berikut:

  1. Seorang guru meniliai seorang peserta didik.
  2. Seorang guru menilai sekelompok peserta didik.
  3. Sekelompok guru menilai seorang peserta didik.
  4. Sekelompok guru menilai sekelompok peserta didik

Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik. Mansur (2011: 86) mengungkapkan bahwa, Kemampuan atau penguasaan kognitif bisa di ukur dengan menggunakan tes lisan di kelas atau tertulis. Tes lisan berupa pertanyaan yang di gunakan untuk mengetahui daya serap peserta didik terhadap masalah yang berkaitan dengan kognitif. Pertanyaan/tes lisan di kelas dapat di gunakan Untuk penilaian berbasis kompetensi, materi yang ditanyakan berupa pemahaman terhadap konsep, prinsip atau teori. Tehnik bertanya yang baik adalah mengajukan pertanyaan kelas, memberi waktu sebentar untuk berfikir, dan kemudian memilih peserta didik secara acak untuk menjawabnya. Apakah jawaban peserta didik itu benar atau salah, guru selalu memberikan kesempatan kepada peserta didik lain atau meminta pendapat atau komentarnya. Barulah, kemudian guru mnyimpulkan tentang jawaban

B.     Macam-macam Tes Lisan

Thoha (2003:61) menjelaskan bahwa tes ini termasuk kelompok tes verbal, yaitu tes soal dan jawabannya menggunakan bahasa lisan. Dari segi persiapan dan cara bertanya, tes lisan dapat dibedakan  menjadi dua yakni:

  1. Tes lisan bebas, yaitu pendidik dalam memberikan soal kepada peserta didik tanpa menggunakan pedoman yang dipersiapkan secara tertulis;

Kelemahan tes lisan bebas ini adalah sukar menentukan standar jawaban yang benar sebab jawaban siswa sifatnya beraneka ragam.

  1. Tes lisan berpedoman, yaitu pendidik menggunakan pedoman tertulis tentang apa yang akan ditanyakan kepada peserta didik.

Tes ini lebih mudah dalam memeriksanya karena dapat lebih mudah ditetapkan standar jawaban yang benar.

C.    Kelebihan dan Kekurangan Tes Lisan

Thoha (2003:61) menjelaskan bahwa Secara umum tes lisan memiliki  kelebihan  dan kelemahan.

  1. Kelebihan tes lisan adalah:
    1. Dapat menilai  kemampuan  dan tingkat pengetahuan  yang  dimiliki  peserta  didik, sikap, serta  kepribadiannya  karena  dilakukan secara berhadapan langsung;
    2. Bagi peserta didik yang kemampuan berpikirnya relative lambat sehingga sering  mengalami  kesukaran  dalam memahami  pernyataan  soal, tes bentuk  ini  dapat menolong  sebab peserta  didik  dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan  yang  dimaksud;
    3. Hasil tes  dapat langsung diketahui  peserta didik;
    4. Meminimalkan terjadi penyontekan;
    5. Peserta didik dapat mengemukakan argumentasi.
    6. Dapat mengvaluasi kemampuan penalaran dan kemampuan berbahasa lisan;
    7. Ujian dapat luas dan mendalam.
    8. Kelemahan tes lisan  adalah:
      1. Subjektivitas  pendidik  sering mencemari hasil tes,
      2. Waktu pelaksanaan yang diperlukan relatif cukup lama,
      3. Jika peserta didik memiliki sifat gugup dapat mengganggu kelancaran menjawab,
      4. Sangat memungkinkan ketidak adilan,
      5. Kurang reliabel.

Sedangkan menurut Arifin (2011: 149) dalam bukunya menyebutkan kebaikan tes Lisan antara lain,

  1. Dapat mengetahui langsung kemampuan peserta didik dalam mengemuka pendapatnya secara lisan
  2. Tidak perlu menyusun soal-soal secara terurai, tetapi cukup mencatat pokok-pokok Permasalahannya saja
  3. kemungkjnan peserta didik akan menerka-nerka jawaban dan berspekulasi dapat dihindari

Adapun, kelemahannya adalah

  1. Memakan waktu yang cukup banyak, apalagi jika jumlah peserta didiknya banyak.
  2. Sering muncul unsur subjektivitas bilamana dalam suasana ujian lisan itu hanya ada seorang guru dan seorang peserta didik.

Demikianlah beberapa kelebihan dan kelemahan tes lisan. Petunjuk ini dapat dijadikan pegangan atau pedoman bagi guru dalam menyelenggarakan tes lisan. Petunjuk-petunjuk praktis untuk suatu ujian biasanya telah dimuat sebagai pedoman seperti yang telah disebutkan tadi. Jadi, guru harus mempelajari petunjuk praktis itu sebaik-baiknya sebelum kegiatan tes dimulai.

 D.    Prosedur dan Perancangan Tes Lisan

Arifin (2011: 149) dalam bukunya menjelasan beberapa petunjuk praktis dalam pelaksanaan tes lisan adalah sebagai berikut:

  1. Jangan terpengaruh oleh faktor-faktor subjektivitas, misalnya dilihat dari kecantikan, kekayaan, anak pejabat atau bukan, hubungan keluarga.
  2. Berikanlah skor bagi setiap jawaban yang dikemukakan oleh peserta didik. Biasanya kita memberikan penilalan setelah tes itu selesai. Cara ini termasuk cara yang kurang baik, akibatnya penilaian akan dipengaruhi oleh jawaban-jawaban yang terakhir.
  3. Catatlah hal-hal atau masalah yang akan ditanyakan dan ruang lingkup jawaban yang diminta untuk setiap pertanyaan. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai pertanyaan yang diajukan menyimpang dan permasalahan dan tak sesuai dengan jawaban peserta didik.
  4. Ciptakan suasana ujian yang menyenangkan. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik tidak ketakutan menghadapi ujian usan tersebut. Kadang-kadang ada juga guru yang sampal berbuat tidak wajar seperti membentak-bentak peserta didik, dan mungkin pula bertindak berlebihan. Tindakan ini harus dihindari, karena dapat mengakibatkan proses pemikiran peserta didik menjadi terhambat, sehingga apa yang dikemukakan oleh mereka tidak mencerminkan kemampuan yang sesungguhnya.
  5. Jangan mengubah suasana ujian lisan menjadi suasana diskusi atau suasana ngobrol santai atau juga menjadi suasana pembelajaran.

Nurkanca, dkk (1986:60) menjelaskan bahwa hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan tes lisan antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Pertahankanlah situasi evaluasi dalam pelaksanaan tes lisan. Guru harus tetap menyadari bahwa tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan gambaran tentang prestasi belajar yangdicapai olehmurid-murid.
  2. Janganlah guru membentak-bentak seorang murid karena murid tersebut memberikan  jawaban yang menurut penilaian guru merupakan jawaban yang sangat “tolol”.
  3. Jangan pula ada kecenderungan untuk membantu seoarang murid yang sedang di tes denganmemberikan kunci-kunci tertentu karena kita merasa kasihan atau simpati pada murid tersebut.Hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip evaluasi karena kita bertindak tidak adil terhadap murid yang lain.
  4. Siapkanlah terlebih dahulu suatu rencana pertanyaan serta score jawaban yang dimintauntuk setiap pertanyaan. Hal ini untuk menjaga agar guru jangan samapai terkecoh oleh jawaban yangngelantur dari murid-murid.
  5. Laksanakanlah skoring secara teliti terhadap setiap jawaban yang diberikan oleh murid.

Tata cara pelaksanaan tes lisan adalah sebagai berikut:

  1. Langsung kepada individu.
  2. Menyebar kepada semua siswa.
  3. Retorik, guru bertanya, siswa diberi waktu untuk menjawab, tetapi guru yang menjawab.
  4. Balikan, pertanyaan siswa dijawab guru selanjutnya guru bertanya lagi kepada siswa yang bertanya.
  5. Terusan, pertanyaan peserta dibalikan untuk dijawab oleh peserta lainnya.

E.     Manfaat Tes Lisan

Manfaat pertanyaan dengan tes  lisan adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan pemahaman siswa.
  2. Mengembangkan kemampuan berpikir dan membuat keputusan.
  3. Mengaktifkan kedua belah pihak guru dan siswa.

Adapun pengembangan tes lisan pada dasarnya sama dengan tes uraian. Perbedaannya selain dalam pelaksanannya, juga keragaman dari aitem yang diberikan kepada responden. Pada tes uraian satu format aitem dapat diberikan pada satu kelas responden, sementara pada tes lisan satu format aitem hanya dapat diberikan pada seorang responden atau paling banyak pada tiga orang responden saja. Hal ini dilakukan untuk menghindari responden berikutnya dapat menebak item yang akan diberikan.

F.     Penilaian Tes Lisan

Teknik Penilaian Tes  lisan    adalah  teknik  penilaian  hasil  belajar  yang  pertanyaan  dan  jawabannya atau pernyataannya atau  tanggapannya disampaikan dalam bentuk lisan dan secara spontan. Misalnya dalam pembelajaran  matematika guru telah menjelaskan konsep persegi panjang,  lalu  guru  mengambil  beberapa  contoh  bangun  datar  berbentuk persegi  dan  mengatakan  ”ini  persegi”.  Kemudian  guru  dapat  mengajukan pertanyaan  secara  lisan:  ”Coba  kalian  ucapkan  dengan  bahasa  kalian  sendiri  apa arti  bangun  datar  persegi?”.  Siswa  diminta  menjawab  soal  ini  secara  lisan  dan bersifat  spontan  berdasar  pengamatan  dan  pemahaman  tentang  definisi persegipanjang. Guru mengajak siswa mengkonstruk makna persegi.

Tes  lisan  juga  dapat  berupa  pertanyaan  yang  jawabannya  dapat  dilakukan dengan  ”mencongak”,  misalnya  dalam  pembelajaran  matematika  di  kelas III semester 2 guru  mengajukan  pertanyaan  secara  lisan:  ”Keliling  persegipanjang dengan panjang 4 cm dan  lebar 3 cm adalah?”, guru meminta  siswa menjawab secara mencongak dan menyebutkan jawabannya dengan lisan.  Tes  lisan  seperti  ini  berguna  untuk mengetahui  pemahaman  siswa  tentang konsep keliling suatu bangun datar, kecepatan berpikir, dan ketepatan siswa dalam menjawab dan menanggapi suatu pertanyaan, serta sikap kritis dalam menghadapi dan memecahkan masalah. Tes lisan ini juga dapat menjadi umpan balik bagi guru untuk  mengetahui  tingkat  pemahaman  siswa  dalam  menangkap  konsep  dan keterampilan berhitung siswa.

G.    Penyusunan Tes dan Pengadminnistrasian Tes

Wahyudin (2006:38-40) menyatakan bahwa secara garis besar, langkah-langkah penyusunan tes hasil belajar adalah sebagai berikut: Mengidentifikasi tujuan-tujuan instruksional dan lingkup materi yang akan diungkap. Pada awal penyusunan tes hasil belajar, guru perlu mengidentifikasi tujuan-tujuan instruksional dan lingkup materi yang akan diungkap. Hal ini penting dilakukan untuk menentukan lingkup persoalan  yang akan diujikan. Sumber-sumber yang dapat digunakan adalah GBPP / silabus, buku-buku sumber, catatan materi pelajaran. Menyusun kisi-kisi.

Penyusunan kisi-kisi diperlukan sebagai pedoman penulisan soal. Dalam kisi-kisi tes hasil belajar sekurang-kurangnya ada hal-hal berikut: lingkup materi persoalan, bentuk soal, segi kedalaman perilaku yang akan diungkap, proporsi penyebaran dan jumlah soal. Menulis soal dan kunci jawaban. Penulisan soal dilakukan berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat, dengan memperhatikan kaidah-kaidah penulisan soal, baik kaidah umum maupun kaidah khusus untuk masing-masing tipe soal, untuk penulisan soal dianjurkan menggunakan format penulisan soal dan dianjurkan untuk menulis soal lebih banyak dari jumlah yang ditentukan pada kisi-kisi, sebagai cadangan jika terdapat soal yang tidak memadai. Kunci jawaban segera dibuat untuk mencegah faktor lupa tentang jawaban yang diharapkan.

Men-judge setiap butir soal secara rasional. Setalah soal-soal selesai dibuat, sebaiknya diperiksa kembali, pemeriksaan  hendaknya tidak dilakukan langsung, tetapi setelah ada jarak tertentu untuk mencegah agar pola pikir kita tidak terpengaruh oleh suasana pikiran saat menulis soal. Untuk tes yang akan dilakukan, pemeriksaan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang dipandang ahli dalam bidang tes.

Mengorganisasikan tes menurut tipe-tipe soal yang dibuat. Setelah soal-soal selesai diperiksa, selanjutnya soal-soal itu ditata atau disusun menurut tipe-tipenya, misalnya soal B-S menjadi satu kelompok, soal PG satu kelompok dan seterusnya, apabila pembuatan soal hanya dalam satu tipe berarti tinggal memadukan saja.

Membuat petunjuk pengerjaan soal. Petunjuk pengerjaan hendaknya dibuat sejelas mungkin, dalam petunjuk hendaknya tergambarkan apa yang harus dikerjakan siswa dan bagaimana mengerjakannya.

Menguji-coba soal. Uji coba dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kebaikan tes secara empirik. Hal-hal yang dianalisis dalam uji-coba soal adalah validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan kepraktisan penggunaan tes. Uji-coba empirik dilakukan untuk tes yang akan dibukukan, untuk tes buatan guru, yang dipergunakan sehari-hari, jarang dilakukan uji-coba empirik ini.

Merevisi soal. Berdasarkan pada data empirik hasil uji-coba, dilakukan perbaikan terhadap soal-soal yang dianggap kurang memadai atau mungkin membuang dan mengganti soal-soal yang dianggap tidak memenuhi syarat.

Mengorganisasikan kembali soal dalam bentuk final. Soal-soal yang dianggap memadai untuk digunakan, dipilih dan ditata kembali dalam bentuk final sesuai dengan jumlah dan proporsi soal yang tertera pada kisi-kisi.

Memperbanyak soal. Jika soal sudah diorganisasikan dalam bentuk final, maka langkah berikutnya adalah memperbanyak soal sesuai dengan jumlah peserta tes, dalam memperbanyak soal dianjurkan untuk menyediakan soal cadangan.

Yang dimaksud dengan mengadministrasikan tes adalah mencakup kegiatan pelaksanaan atau penyelenggaraan tes dan penyekorannya (pemberian skor). Berikut akan dijelaskan mengenai prosedur pelaksanaan dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan tes tertulis, tes lisan dan tes perbuatan. Kegiatan pemberian skor/penyekoran akan dibahas pada kegiatan belajar 2 yang akan dilanjutkan dengan pengolahan skor.

Pelaksanaan tes lisan dapat menempuh langkah-langkah: menentukan jumlah penguji dan testi, dengan kemungkinan: seorang penguji – seoarang testi, sekelompok penguji – seorang testi, seorang penguji – sekelompok testi, sekelompok penguji – sekelompok testi; penguji menyiapkan pokok-pokok pertanyaan dan pedoman penyekoran; penguji mempersilakan testi memasuki ruang ujian dan memberikan petunjuk umum tentang jalannya ujian; penguji mengajukan pertanyaanpertanyaan yang sudah disiapkan dan testi menjawabnya; penguji segera memberikan skor/nilai setiap testi selesai menjawab masing-masing pertanyaan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pelaksanaan tes lisan adalah sebagai berikut: pertanyaan yang diajukan penguji harus jelas dan singkat; pertanyaan diajukan satu demi satu; lingkup pertanyaan berkisar pada soal-soal yang telah disiapkan; perhatikan porsi waktu untuk masing-masing pertanyaan atau untuk masing-masing testi.

 H.    Analisis Butir soal

  1. Analisis Butir Soal

Analisis butir soal digunakan guru untuk rnendapatkan informasi. Teknik penilaian yang memungkinkan dan dapat dengan mudah digunakan oleh guru. Tes lisan merupakan tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik. Tes bentuk ini dapat menolong sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang dimaksud.

Materi yang telah ditentukan harus dapat diukur sesuai dengan alat ukur yang akan digunakan yaitu tes atau non-tes. Penentuan materi penting dilakukan dengan memperhatikan kriteria:

  1. Urgensi, yaitu materi secara teoritis mutlak harus dikuasaioleh peserta didik,
  2. Kontinuitas, yaitu materi lanjutan yang merupakan pendalamandari satu atau lebih materi yang sudah dipelajari sebelumnya,
  3. Relevansi, yaitu materi yang diperlukan untuk mempelajariatau memahami, mata pelajaran lain,
  4. Keterpakaian, yaitu rnateri yang memiliki nilai terapantinggi dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Kegiatan ini merupakan proses pengumplan, peringkasan, dan penggunaan informasi dari jawaban siswa untuk membuat keputusan tentang setiap penilaian. Tujuan penelaahan adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan. Disamping itu, tujuan analisis butir soal juga membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui informasi diagnostic pada siswa apakah mereka sudah atau belum memahami materi yang telah diajarkan.

Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya diantaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru. Tujuan utama analisis butir soal dalam sebuah tes yang dibuat guru adalah untuk mengidentifikasi kekeurangan-kekurangan dalam tes atau dalam pembelajaran. Berdasarkan tujuan ini, maka kegiatan analisis butir soal memiliki banyak manfaat, dinataranya adalah:

  1. Dapat membantu para pengguna tes dalam evaluais atas tes yang digunakan
  2. Sangat relevan bagi penyususnan tes informal dan local seperti tes yang disiapkan oleh guru untuk siswa.
  3. Mendukung penulisan butie soal yang efektif
  4. Secara materi dapat memperbaiki tes di kelas
  5. Meningkatkan validitas soal dan realibilitas

Di samping itu, manfaat lainnya adalah:

  1. Menentukan apakah suatu fungsi butir soal sesuai dengan yang diharapkan
  2. Memberikan masukan kepada guru tentang kesulitan siswa
  3. Member masukan pada aspek tertentu utnuk pengembangan kurikulum

Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah setiap butir soal ditelaah dari segi: tingkat kesukaran butir, daya pembeda butir, dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau frekuensi jawaban pada setiap pilihan jawaban.

  1. Tingkat kesukaran

Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00-1,00 (Aiken, 1994:66). Semakin besar indeks tingkat kesukarannya diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu. Suatu soal memiliki TK = 0,00 artinya bahwa tidak ada siswa yang menjawab benar dan bila memiliki TK=1,00 artinya bahwa siswa menjawab benar. Perhitungan indeks tingkat ini dilakukan untuk setiap nomer soal. Pada prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal itu. Rumus ini dipergunakan untuk soal obyektif. Rumusnya adalah sebagai berikut ini (Nitko, 1996:310).

Fungsi tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan tes. Misalnya untuk keperluan uji semester digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran sedang, untuk keperluan seleksi digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi/sukar, dan untuk keperluan diagnostik biasanya digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran rendah/mudah. Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas menggambarkantingkat kesukaran soal itu. Klasifikasi tingkat kesukaran soaldapat dicontohkan seperti berikut ini.0,00 – 0,30 soal tergolong sukar0,31 – 0,70 soal tergolong sedang0,71 – 1,00 soal tergolong mudahTingkat kesukaran butir soal dapat mempengaruhi bentuk distribusitotal skor tes. Untuk tes yang sangat sukar (TK= < 0,25) distribusinya berbentuk positif skewed, sedangkan tes yang mudahdengan TK= >0,80) distribusinya berbentuk negatif skewed.

Tingkat kesukaran butir soal memiliki 2 kegunaan, yaitu kegunaan bagi guru dan kegunaan bagi pengujian dan pengajaran. Kegunaannya bagi guru adalah: (1) sebagai pengenalan konsep terhadap pembelajaran ulang dan memberi masukan kepada siswa tentang hasil belajar mereka, (2) memperoleh informasi tentang penekanan kurikulum atau mencurigai terhadap butir soal yang bias.

Adapun kegunaannya bagi pengujian dan pengajaran adalah: (a) pengenalan konsep yang diperlukan untuk diajarkan ulang, (b) tanda-tanda terhadap kelebihan dan kelemahan pada kurikulum sekolah, (c) memberi masukan kepada siswa, (d) tanda-tanda kemungkinan adanyabutir soal yang bias, (e) merakit tes yang memiliki ketepatan data soal.

Di samping kedua kegunaan di atas, dalam konstruksi tes, tingkat kesukaran butir soal sangat penting karena tingkat kesukaran butirdapat: (1) mempengaruhi karakteristik distribusi skor (mempengaruhi bentuk dan penyebaran skor tes atau jumlah soal dan korelasi antar soal), (2) berhubungan dengan reliabilitas.

Menurut koefisien alfa clan KR-20, semakin tinggi korelasi antar soal, semakin tinggi reliabilitas. Tingkat kesukaran butir soal juga dapat digunakan untuk memprediksi alat ukur itu sendiri (soal) dan kemampuan peserta didik dalam memahami materi yang diajarkan guru. Misalnya satu butir soal termasuk kategori mudah, maka prediksi terhadap informasi ini adalah seperti berikut:

  1. Pengecoh butir soal itu tidak berfungsi.
  2. Sebagian besar siswa menjawab benar butir soal itu; artinya bahwa sebagian besar siswa telah memahami materi yang ditanyakan.

Bila suatu butir soal termasuk kategori sukar, maka prediksi terhadap informasi ini adalah seperti berikut:

  1. Butir soal itu “mungkin” salah kunci jawaban.
  2. Butir soal itu mempunyai 2 atau lebih jawaban yangbenar.
  3. Materi yang ditanyakan belum diajarkan atau belum tuntas pembelajarannya, sehingga kompetensi minimum yang harus  dikuasai siswa belum tercapai.
  4. Materi yang diukur tidak cocok ditanyakan dengan menggunakan bentuk soal yang diberikan (misalnya meringkas cerita atau mengarang ditanyakan dalam bentuk pilihan ganda).
  5. Pernyataan atau kalimat soal terlalu kompleks danpanjang. Namun, analisis secara klasik ini memang memiliki keterbatasan, yaitu bahwa tingkat kesukaran sangat sulit untuk mengestimasi secara tepat karena estimasi tingkat kesukaran dibiaskan oleh sampel (Haladyna, 1994: 145).

Jika sampel berkemampuan tinggi, makasoal akan sangat mudah (TK= >0,90). Jika sampel berkemampuan rendah, maka soal akan sangat sulit (TK = < 0,40). Oleh karena itu memang merupakan kelebihan analisis secara IRT, karena 1RT dapat mengestimasi tingkat kesukaran soal tanpa menentukan siapa pesertatesnya (invariance). Dalam IRT, komposisi sampel dapat mengestimasi parameter dan tingkat kesukaran soal tanpa bias.

  1. Daya Pembeda (DP)

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapatmembedakan antara warga belajar/siswa yang telah menguasai materiyang ditanyakan dan warga belajar/siswa yang tidak/kurang/belum menguasai materi yang ditanyakan. Manfaat daya pembeda butir soal adalah seperti berikut ini:

  1. Untuk meningkatkan mutu setiap butir soal melalui dataempiriknya. Berdasarkan indeks daya pembeda, setiapbutir soal dapat diketahui apakah butir soal itu baik,direvisi, atau ditolak.
  2. Untuk mengetahui seberapa jauh setiap butir soal dapat mendeteksi/membedakan kemampuan siswa, yaitu siswa yang telah memahami atau belum memahami materi yang diajarkan guru.

Apabila suatu butir soal tidak dapat membedakan kedua kemampuan siswa itu, maka butir soal itu dapat dicurigai “kemungkinannya” seperti berikut ini:

  1. Kunci jawaban butir soal itu tidak tepat.
  2. Butir soal itu memiliki 2 atau lebih kunci jawabanyang benar
  3. Kompetensi yang diukur tidak jelas
  4. Pengecoh tidak berfungsi
  5. Materi yang ditanyakan terlalu sulit, schingga banyaksiswa yang menebak
  6. Sebagian besar siswa yang memahami materi yang ditanyakan berpikir ada yang salah informasi dalambutir soalnya

Indeks daya pembeda setiap butir soal biasanya juga dinyatakandalam bentuk proporsi. Semakin tinggi indeks daya pembeda soalberarti semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan warga belajar/siswa yang telah memahami materi dengan wargabelajar/peserta didik yang belum memahami materi.

Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan +1,00. Semakin tinggidaya pembeda suatu soal, maka semakin kuat/baik soal itu. Jika dayapembeda negatif (<0) berarti lebih banyak kelompok bawah (wargabelajar/peserta didik yang tidak memahami materi) menjawab benarsoal dibanding dengan kelompok atas (warga belajar/peserta didikyang memahami materi yang diajarkan guru).Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk pilihan ganda adalah dengan menggunakan rumus berikut ini.

DP = daya pembeda soal, BA = jumlah jawaban benar pada kelompok atas,BB = jumlah jawaban benar pada kelompok bawah,N =jumlah siswa yang mengerjakan tes.

Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas dapat menggambarkan tingkat kemampuan soal dalam membedakan antar pesertadidik yang sudah memahami materi yang diujikan dengan peserta didik yang belum/tidak memahami materi yang diujikan.

 I. Penyekoran dan Pengolahan skor

Penyekoran tes lisan sama dengan penyekoran tes uraian, namun dalam tes lisan, penyekorannya dapat dilakukan lebih akurat karena ada kesempatan untuk melakukan pengecekkan jawaban testi. Agar penyekoran dalam tes lisan dapat dilakukan secara cermat, perhatikan hal-hal berikut: gunakan pedoman penyekoran; penyekoran dilakukan segera setelah testi selesai menjawab setiap pertanyaan / soal; penyekoran semata-mata diberikan pada mutu jawaban testi.

Contoh Pedoman Penyekoran Tes Lisan

Bidang Studi                 :…………………………

Nama Testi                   : …………………………

Kelas                              : …………………………

Tanggal                         :………………………….

No Pokok Pertanyaan Pokok Jawaban Yang diharapkan Pokok Jawaban Testi Skor Keterangan

 J.      Petunjuk Pelaksanaan Tes Lisan

Sukardi (2009:154-156) mengemukakan beberapa petunjuk praktis yang dapat dipergunakan sebagai pegangan dalam pelaksanaan tes lisan, antara lain:

  1. Sebelum tes lisan dilaksanakan, seyogyanya tester sudah melakukan inventarisasi berbagai jenis soal yang akan diajukan kepada testee dalam tes lisan tersebut, sehingga tes lisan dapat diharapkan memiliki validitas yang tinggi, baik dari segi isi maupun konstruksinya.
  2. Setiap butir soal yang telah ditetapkan untuk diajukan dalam tes lisan itu, juga harus disiapkan sekaligus pedoman atau ancar-ancar jawaban betulnya. Hal ini dimaksudkan agar tester disamping mempunyai kriteria yang pasti dalam memberikan skor atau nilai kepada testee atas jawaban yang mereka berikan dalam tes lisan tersebut, juga tidak akan terpukau atau terkecoh dengan jawaban panjang lebar atau berbelit-belit yang diberikan oleh testee, yang menurut anggapan testee merupakan jawaban betul dan tepat, padahal menurut kriteria yang telah ditentukan sesungguhnya sudah menyimpang atau tidak ada hubungannya dengan soal yang diajukan pada testee.
  3. Jangan sekali-kali menentukan skor atau nilai hasil tes lisan setelah seluruh testee menjalani tes lisan. Skor atau nilai hasil tes lisan harus sudah dapat ditentukan disaat masing-masing testee selesai selesai dites. Hal ini dimaksudkan agar pemberian skor atau nilai hasil tes lisan yang diberikan kepada testee itu tidak dipengaruhi oleh jawaban yang diberikan oleh testee yang lain.
  4. Tes hasil yang dilaksanakan secara lisan hendaknya jangan sampai menyimpang atau berubah arah dari evaluasi menjadi diskusi. Tester harus senantiasa menyadari bahwa testee yang ada dihadapannya adalah testee yang sedang “diukur” dan “dinilai” prestasi belajarnya setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian apabila terjadi bahwa jawaban yang diberikan oleh testee yang sekalipun menyimpang dari kriteria yang telah ditentukan, namun sebenarnya tidak dapat disalahkan atau tidak sepenuhnya salah, cukup diberikan skor atau nilai dan tidak perlu disangkal atau diperdebatkan, yang dapat mengakibatkan kegiatan evaluasi berubah menjadi kegiatan diskusi.
  5. Dalam rangka menegakkan prinsip obyektivitas dan prinsip keadilan, dalam tes yang dilaksanakan secara lisan itu, tester hendaknya jangan sekali-kali “memberikan angin segar” atau “memancing-mancing” dengan kata-kata, kalimat-kalimat atau kode-kode tertentu yang sifatnya menolong testee tertentu alasan “kasihan” atau karena tester menaruh “rasa simpati” kepada testee yang ada yang dihadapinya itu. Menguji, pada hakikatnya adalah “mengukur” dan bukan “membimbing” testee.
  6. Tes lisan harus berlangsung secara wajar. Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa tes lisan itu jangan sampai menimbulkan rasa takut, gugup atau panik dikalangan testee. Karena itu, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada testee, tester harus menggunakan kata-kata yang halus, bersifat sadar dan tidak emosional. Penggunaan kalimat-kalimat yang sifatnya “menteror”, yang dapat menimbulkan tekanan psikis pada diri testee, haruslah dicegah.
  7. Sekalipun acapkali sulit untuk dapat diwujudkan, namun sebaiknya tester mempunyai pedoman atau ancar-ancar yang pasti, berapa lama atau berapa waktu yang disediakan bagi tiap peserta tes dalam menjawab soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan pada tes lisan tersebut. Haruslah diusahakan terciptanya keseimbangan alokasi waktu, antara testee yang satu dengan testee yang lain.
  8. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam tes lisan hendaknya dibuat bervariasi, dalam arti bahwa sekalipun inti persoalan yang ditanyakan itu sama, namun cara pengajuan pertanyaannya dibuat berlainan atau beragam. Hal ini dimaksudkan agar testee yang dites lebih akhir – (karena sudah memperoleh “informasi” dari testee yang telah dites terdahulu) – jangan sampai “memperoleh nasib yang lebih mujur” ketimbang testee yang dites lebih awal.
  9. Sejauh mungkin dapat diusahakan agar tes lisan itu berlangsung secara individual (satu demi satu). Hal ini dimaksudkan agar tidak mempengaruhi mental testee yang lain. Misalnya, apabila dalam tes lisan itu secara serempak berhadapan dengan dua orang testee atau lebih dan pertanyaan yang sedang diajukan kepada testee yang mendapat kesempatan lebih awal tidak mungkin dapat dijawab oleh testee berikutnya, maka mental testee yang belum dites itu akan menjadi menurun sehingga akan mempengaruhi jawaban- jawaban berikutnya. Kecuali itu hal tersebut di atas juga dimaksudkan agar tidak memberikan “angin segar” kepada testee yang belum dites, sebab mereka mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk menyiapkan jawabannya ketimbang testee yang sedang atau sudah selesai dites.
    1. K.    Contoh: Format Penilaian Tes Lisan 

Mata Pelajaran/Kelas        :  Matematika/ I(semester 1)

Kompetensi Dasar             : 1.4 Menyelesaikan masalah  yang  berkaitan  dengan penjumlahan dan pengurangan sampai 20. 

Indikator                           : Menyelesaikan  masalah  yang  berkaitan  dengan  penjumlahan sampai 20.

No Aspek yang Dinilai Bobot Penilaian

Skor

Skor

Rubrik

1 2 3 4
Pemahaman terhadap apa

yang diketahui

  1. jika sama sekali tidak memahami
  2. jika pemahamannya sebagian kecil
  3. jika pemahamannya sebagian besar
  4. jika sangat memahami
2. Pemahaman terhadap apa

yang ditanyakan

  1. jika sama sekali tidak memahami
  2. jika pemahamannya sebagian kecil
  3. jika pemahamannya sebagian besar
  4. jika sangat memahami
3. Ketepatan penggunaan

strategi dalam pemecahan masalah

  1. jika sama sekali tidak tepat
  2. jika sebagian kecil tepat
  3. jika sebagian besar tepat
  4. 4.  jika seluruhnya tepat
4. Kecermatan dalam

menyampaikan argumentasi

  1. jika sama sekali tidak cermat
  2. jika sebagian kecil cermat
  3. jika sebagian besar cermat
  4. jika seluruhnya cermat
5. Kelogisan dalam  urutan

langkah pemecahan

masalah

  1. jika sama sekali tidak logis
  2. jika sebagian kecil logis
  3. jika sebagian besar logis
  4. jika seluruhnya logis
6. Kebenaran jawaban
  1. jika sama sekali tidak benar
  2. jika sebagian kecil benar
  3. jika sebagian besar benar
  4. jika seluruhnya benar

Skor maksimal = 100

Rumus penilaian:  Nilai = Jumlah skor

DAFTAR PUSTAKA :

Arifin, Zaenal (2011). Evaluasi pembelajaran (Prinsip, Teknik, Prosedur). PT Remaja Rosdakarya: Bandung.

Arikunto, S. (2010). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta:

Bumi Aksara.

Burhanudin, Hilman. 2009. Analisis Butir Soal Pekan Ulangan Akhir Semester Ganjil 2009/2010Mata Diklat PASP kelas X KM2Dayan, Maulana.Tes Lisan pada Sebuah Penilaian.

Chen, Mei-Yun. 2008. Study Learning to self-assess oral performance in English: A longitudinal case http://ltr.sagepub.com/content/12/2/235The online version of this article can be found at: DOI: 10.1177/1362168807086293,  2008 12: 235 Language Teaching Research

Depdiknas. (2008). KBBI Daring. Dipetik Juni 07, 2012. dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional: (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php)

Ditkowsky, Ben  and Koonce, Daniel A. 2009. Predicting Performance  on High-Stakes Assessment  for Proficient Students and  Students At Risk With Oral  Reading Fluency Growth DOI: 10.1177/1534508409333345 2010 35: 159 originally published online 4 May 2009 Assessment for Effective Intervention

http://dayanmaulana.blogspot.com/2011/03/tes-lisan.html, Tanggal: 11Juni 2012).

Haladyna, Thomas M. 1994. Developing and Validatinng Multiple-Choice Test Items. New Jersey: Lewrence Erlbaum Associates, Publishers.

Muljono, D. d. (2008). Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: PT

Grasindo.

Muñoz, Ana P. and Washback, Marta E. Language Testing of an oral assessment system in the EFL classroom http://ltj.sagepub.com/content/27/1/33The online version of this article can be found at: DOI: 10.1177/0265532209347148,  2010 27: 33

Muslich, Mansur (2011). Authentic Assesment: Penilaian Berbasis Kelas dan

Kompetensi. PT Refika Aditama : Bandung

Overton, Terry. (2008). Assessing Learners with Special Needs: An Applied

Approach (7th Edition). University of Texas – Brownsville

Phillips, Allen D. (1979). Measurement and Evaluation in physical education.

Canada: John Whiley & Sons, Inc.

Sudijono, A. (2011). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada.

Wahyudin, Ayu, dkk. 2006. Evaluasi Pembelajaran SD. Bandung: UPI PRESS.

Zhengdong Gan. 2010. Interaction in group oral assessment: A case study of higher- and lower-scoring Students,  The Hong Kong Institute of Education, P.R. China, 2010

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

3 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *