Pembelajaran Quantum (Quantum Learning) sebagai Alternatif Pilihan dalam Merancang Pembelajaran bagi Mahasiswa PGSD Universitas Muhammdiyah Purwokerto

  1. Metode pembelajaran Quantum

Pembelajaran adalah sebuah integrasi yang bernilai pendidikan. Di dalam proses pembelajaran terjadi interaksi edukatif antara guru dan anak didik, ketika guru menyampaikan bahan pelajaran kepada anak didik di kelas. Bahan pelajaran yang guru berikan itu akan kurang memberi dorongan (motivasi) kepada anak didik bila penyampainya menggunakan metode pembelajaran yang kurang tepat. Di sinilah kehadiran metode pembelajaran menempati posisi penting dalam penyampaian bahan pelajaran.

Bahan pelajaran yang di sampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode atau metode pembelajaran justru akan mempersulit bagi guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam proses belajar-mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Karena itu metode atau metode adalah suatu cara yang memiliki nilai strategis dalam kegiatan pembelajaran.

Dalam penelitian tindakan kelas penulis mengambil metode pembelajaran Quantum. Metode pembelajaran Quantum dimulai di Super Camp sebuah program untuk remaja yang dibuka tahun 1982 yang di gagas oleh Bobbi Depoter. Super Camp merupakan sebuah program percepatan Quantum Teaching “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, antarkanlah dunia kita ke dunia mereka”.

Maksud dari azas di atas adalah guru harus membangun jembatan autentik untuk memasuki kehidupan murid. Dengan memasuki dunia murid berarti guru mempunyai hak mengajar, sehingga murid dengan sukarela, antusias dan semangat untuk mengikuti pelajaran. Quantum berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya (Deporter dan Mike Hernalki, 2000: 5). Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya atau kesuksesan yang akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dalam pembelajaran Quantum, siswa yang merupakan komunitas belajar atau masyarakat mini agar supaya dalam belajar dapat optimal, terjadi umpan balik, tempat siswa mengalami kegembiraan dan kepuasan, memberi dan menerima, belajar dan tumbuh maka perlu mengorkestrasi kesuksesan melalui konteks. Konteks menata panggung dalam pembelajarn Quantum mempunyai empat aspek:

  • Suasana

Dalam suasana kelas anda mencakup bahasa yang anda pilih, cara menjalin rasa simpati terhadap siswa dan sikap kita terhadap sekolah serta belajar. Suasana pembelajaran penuh ke gembiraan. Hindari suasana matematika kaku, dingin, dan menyeramkan.

  • Landasan

Landasan adalah kerangka kerja, tujuan, keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur dan aturan bersama yang memberi kita dan siswa sebuah pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar matematika.

  • Lingkungan

Lingkungan adalah cara kita atau sekolah menata ruang kelas, pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, hiasan kelas, musik dan semua hal yang dapat mendukung proses belajar matematika.

  • Rancangan

Rancangan adalah penciptaan terarah unsur-unsur penting yang bisa menumbuhkan minat siswa, mendalami makna dan memperbaiki proses tukar-menukar informasi. Dalam arti informasi awal yang diperoleh siswa dalam mengenal konsep dan penjelasan pelajaran dari guru tentang konsep yang bersangkutan.

2.    Prinsip-prinsip Pembelajaran Quantum

Pembelajaran Quantum  memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap (Deporter dan Mike Hernalki, 2000: 7)

  • Segalanya berbicara

Segalanya dari lingkungan kelas, hingga bahas tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran semuanya mengirim pesan tentang belajar. Maksudnya adalah bahwa setiap aktivitas pembelajaran dirancang untuk mengirim pesan sendiri-sendiri, misalnya dari lingkungan kelas dengan menggunakan alat peraga dalam situasi belajar, akan membuat pesan tersebut lebih tersampaikan, dari bahasa tubuh melalui gerakan tangan, lengan, dan tubuh yang alamiah dan terarah akan memeberi penekanan pada sebuah pesan. Tersenyum memberi pesan senang, mengangguk memberi pesan setuju, menggeleng memberi pesan tidak setuju, kertas yang dubagikan akan memberi pesan alami dan sebagainya. Disini guru dituntut menjadi pengorkestra yang baik, yang mampu menata semua komponen belajar untuk belajar secara sinergis dalam rangka mencapai tujuan belajar.

  • Segalanya bertujuan

Semua yang terjadi dalam penggubahan mempunyai tujuan. Maksudnya adalah bahwa setiap aktivitas pembelajaran dirancang dan dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

  • Pengalaman sebelum pemberian nama

Proses belajar yang baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.

  • Akui setiap usaha

Mengakui usaha siswa untuk memperoleh kecakapan dan kepercayaan diri adalah yang terpenting dalam membangun keberhasilan. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik dengan siswa, akuilah setiap usaha, tidak hanya usaha yang tepat saja. Namun terkadang guru lebih banyak mengakui ketepatan dari pada proses belajar perorangan.

  • Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.

Perayaan dapat membangun gairah tersendiri untuk belajar. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.

3. Pelaksanaan Pembelajaran Quantum

Pelaksanaan Pembelajaran Quantum didasarkan pada langkah-langkah atau strategi TANDUR (Deporter dan Mike Hernalki, 2000: 10).

Langkah 1 : TUMBUHKAN

Guru menyampaikan sebuah cerita tentang kehidupan yang dapat menumbuhkan semangat belajar. Cerita tersebut berisi tentang segudang manfaat untuk kehidupan siswa serta apa yang perlu dipelajari agar siswa dapat mencapai apa yang diinginkan.

Langkah 2 : ALAMI

Guru menciptakan pengalaman umum pada siswa yang dapat dipahami oleh setiap siswa. Guru menciptakan sesuatu yang abstrak menjadi konkrit dan mengaitkan materi dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah 3 : NAMAI

Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan tuntunan berdasarkan pengalaman yang dilakukan siswa untuk menemukan pengetahuan yang diketahui. Guru memberikan informasi untuk mengajarkan konsep, ketarmpilan berfikir dan strategi belajar.

Langkah 4: DEMONSTRASIKAN

Maksudnya siswa diberikan kebebasan untuk dapat mengungkapkan gagasan atau pendapat supaya menimbulkan berbagai interaksi positif serta memanfaatkan perbedaan siswa untuk kegiatan belajar.

Langkah 5 : ULANGI

Yang dimaksud dengan ulangi adalah upaya penegasan, penekanan, dan penyimpulan terhadap materi pokok yang diajarkan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Dengan pengulangan, maka ingatan siswa terhadap materi akan semakin terpatri dengan baik.

Langkah 6 : RAYAKAN

Pengakuan guru terhadap penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan ilmu pengetahuan dan ketrampilan oleh siswa akan meningkatkan motivasi belajar dan rasa percaya diri untuk belajar yang lebih baik.

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *