Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

A. Konsep Dasar Pembelajaran Matematika di SD

Menurut Bruner (Herman Budoyo,1998:56) Pembelajaran matematika adalah belajar tentang konsep dan struktur matematika yang terdapat dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan antara konsep dan struktur matematika di dalamnya. Menurut Cobb pembelajaran matematika sebagai proses pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika. Menurut rahayu (2007:2) pembelajaran matematika adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seseorang melaksanakan kegiatan belajar matematika dan pembelajaran matematika harus meberikan peluang kepada siswa untuk berusaha dan mencari pengalaman tentang matematika. Jadi, Pembelajaran matematika adalah proses interaksi antara guru dan siswa yang melibatkan pola berpikir dan mengolah logika pada suatu lingkungan belajar yang sengaja diciptakan oleh guru dengan berbagai metode agar program belajar matematika tumbuh dan berkembang secara optimal dan siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien. Selain guru dan siswa, bahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran tersebut juga menentukan keberhasilan pembelajaran matematika.

Pembelajaran matematika di SD merupakan salah satu kajian yang selalu menarik untuk dikemukakan karena adanya perbedaan karakteristik khususnya antara hakikat anak dengan hakikat matematika. Demi tercapainya tahap keterampilan dalam diri siswa dalam menggunakan konsep matematika pada kehidupan sehari-hari, maka pembelajaran matematika di sekolah dasar harus melalui langkah-langkah yang sesuai dengan kemampuan dan lingkungan siswa.

Langka-langkah pembelajaran matematila di SD hendaknya mencakup 3 konsep (Heruman, 2008:2-3) diantaranya :

  1. Penanaman konsep dasar;   Penanaman konsep dasar merupakan pembelajaran suatu konsep baru matematika. Saat siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut. Pembelajaran penanaman konsep dasar adalah suatu perantara yang dapat menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkret  dengan konsep baru matematika yang abstrak. Sehingga dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan media atau alat peraga untuk membantu proses berpikir siswa. Adanya konsep dasar ini dapat diketahui dari isi kurikulum yang ditandai dengan kata mengenal.
  1. Pemahaman konsep: Pemahaman konsep merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep yang memiliki tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih kepada siswa mengenai susatu konsep matematika. Pemahaman konsep mengandung 2 pengertian yaitu a) merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dalam 1 pertemuan, dan b) pembelajaran pemahaman konsep dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tetapi masih merupakan kelanjutan dari penanaman konsep.
  1. Pembinaan keterampilan;  Pembinaan keterampilan merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman dan pemahaman konsep yang memiliki tujuan untuk memberikan keterampilan yang lebih kepada siswa dalam menggunakan berbagai konsep matematika. Pembinana keterampilan memiliki 2 pengertian yaitu a) merupakan kelanjutan dari pembelajarn penanaman dan pemahaman konsep dalam 1 pertemuan, dan b) pembelajaran pembinaan keterampilan dilakukan pada pertemuan yag berbeda, tetapi masih merupakan kelanjutan dari penanaman dan pemahaman konsep.

B. Ciri-ciri Pembelajaran Matematika di SD

Pembelajaran matematika di SD selalu berbeda dengan pembelajaran matematika di SMP dan SMA. Pembelajaran matematika SD mempunyai ciri-ciri :

  1. Pembelajaran Matematika menggunakan metode spiral;  Pendekatan spiral dalam pembelajaran matematika merupakan pendekatan dimana pembelajaran konsep atau suatu topik matematika selalu mengkaitkan atau menghubungkan dengan topik sebelumnya. Topik sebelumnya dapat menjadi prasyarat untuk dapat memahami dan mempelajari suatu topik matematika. Topik baru yang dipelajari merupakan pendalam dan perluasan dari topik sebelumnya. Konsep diberikan dimulai dengan benda-benda konkrit kemudian konsep itu diajarkan kembali dengan bentuk pemahaman yang lebih abstrak dengan notasi yang lebih umum digunakan dalam pembelajaran.
  1. Pembelajaran matematika bertahap;  Materi pembelajaran matematika diajarkan secara bertahap yaitu dimulai dari konsep-konsep yang sederhana, menuju konsep yang lebih sulit. Selain itu pembelajaran matematika dimulai dari yang konkrit, ke semi konkret dan akhirnya kepada konsep abstrak. Untuk mempermudah siswa memahami objek matematika maka benda-benda konkrit digunakan pada tahap konkrit, kemudian ke gambar-gambar pada semi konkrit dan akhirnya ke simbol-simbol pada tahap abstrak. Contoh: Seorang guru yang akan mengajari tentang perkalian bilangan cacah dikelas dua, maka dapat memberikan pemahaman arti perkalian dengan menggunakan benda-benda konkrit seperti permen, kelereng, penggaris, buku, dll.  Misal: pemahaman 3×4, dapat dilakukan dengan memberikan soal cerita, seperti Ibu mempunyai 3 bungkus kelereng yang tiap-tiap bungkus berisi 2 kelereng. Guru mengelompokkan 2 kelompok. Menggambar 2 kelereng sebanyak 3 kelompok.

Seperti berikut :

 

Guru bertanya pada siswa

Guru memberikan penjelasan

Bahwa 3 kumpulan yang berisi 2 kelereng sama dengan kumpulan yang terdiri dari 6 kelereng.

Dengan menggambarkan dan menuliskan 3×2= 6

  1. Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif;  Matematika merupakan ilmu induktif. Namun karena sesuai tahap perkembangan mental siswa maka pada pembelajaran matematika di SD digunakan pendekatan induktif. Contoh: Pengenalan-pengenalan bangun ruang tidak dimulai dari definisi, tetapi dimulai dengan memperhatikan  contoh-contoh dari bangun tersebut dan mengenal namanya. Menemukan  sifat-sifat yang dapat pada bangun ruang tersebut sehingga didapat pemahaman konsep bangun-bangun ruang itu.
  1. Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi;   Kebenaran matematika merupakan kebenaran yang konsisten artinya tidak ada pertentangan antara kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lainnya. Suatu pertanyaan dianggap benar jika didasarkan kepada pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah diterima kebenarannya. Meskipun di SD pembelajaran matematika dilakukan dengan cara induktif tetapi pada jenjang selanjutnya generalisai suatu konsep harus secara deduktif.
  1. Pembelajaran matematika hendaknya bermakna;  Pembelajaran secara bermakna merupakan cara mengajarkan materi pelajaran yang mengutamakan pengertian darpada hafalan. Dalam belajar bermakna aturan-aturan, sifat-sifat, dan dalil-dalil tidak diberikan dalam bentuk jadi, tetapi sebaliknya aturan-aturan, sifat-sifat, dan dalili-dalil ditemukan oleh siswa melalui contoh-contoh secara induktif di SD, kemudian dibuktikan secara deduktif pada jenjang selanjutnya.    Konsep-konsep matematika tidak dapat diajarkan melalui definisi,  tetapi  melalui contoh-contoh yang  relevan. Guru hendaknya dapat membantu  pemahaman suatu konsep dengan pemberian contoh-contoh yang dapat diterima kebenarannya secara intuitif. Artinya siswa dapat  menerima kebenaran itu dengan pemikiran yang sejalan dengan pengalaman yang sudah dimilikinya. Pembelajaran suatu konsep perlu memperhatikan proses terbentuknya konsep tersebut.                                     Dalam pembelajaran bermakna siswa mempelajari matematika mulai dari proses terbentuknya suatu  konsep kemudian berlatih menerapkan dan memanipulasi konsep-konsep tersebut pada situasi baru. Dengan pembelajaran seperti ini, siswa terhindar dari verbalisme. Karena dalam setiap hal yang dilakukannya dalam kegiatan pembelajaran ia memahaminya mengapa dilakukan dan bagaimana melakukannya. Oleh karena itu akan tumbuh kesadaran tentang pentingnya belajar. Ia akan belajar dengan baik. Contoh : pembelajaran matematika di SD  yang bermakna.
  1. Untuk mendapatkan sifat komunikatif perkalian

Misal: axb = bxa

Maka dapat dilakukan dengan memberikan soal :

3×2=                            5×4=

4×5=                            4×7=

6×3=                            2×3=

7×4=                            3×6=

Selanjutnya guu dapat membimbing siswa sehingga dapat menyimpulkan axb=bxa

  1. Untuk mengajarkan konsep balok siswa diberikan balok dan disuruh untuk menghitung banyak rusuk, titik sudut, bidang sisi balok sehingga siswa dapat menyimpulkan definisi balok.
  2. Matematika sebagai Ilmu tentang Pola dan Urutan

Matematika adalah ilmu tentang sesuatu yang memiliki pola keteraturan dan urutan yang logis. Menemukan dan mengungkap keteraturan atau urutan ini kemudian memberikan arti merupakan makna dari mengerjakan matematika. Dalam persamaan matematika ada logika dibalik hasil-hasil sederhana yakni pola dan urutan. Pola tidak hanya terdapat pada bilangan dan persamaan, tetapi juga berada pada setiap sesuatu disekeliling kita. Dunia penuh dengan pola dan urutan: di alam, dalam seni, dalam bangunan, dalam musik, perdagangan, sains, farmasi, industri manufaktur, sosiologi dan lain-lain. Matematika menyelidiki pola ini, memberi arti, dan menggunakannya dalam berbagia cara yang menarik, untuk memperbaiki dan memperluas kehidupan kita. Dunia pendidikan membantu peserta didiknya dalam proses penyelidikan pola dan aturan.

C. Prinsip Dalam Melaksanakan Pembelajaran Matematika di SD

Ada beberapa prinsip pembelajaran  matematika di SD sesuai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004, yaitu :

  1. Guru di Sekolah Dasar dapat menyusun siabus atau perencanaan pembelajaran dengan mengacu dan berpedoman dkepada Kurikulum  Berbasis Kompetensi tahun 2004.
  1. Kecakapan matematika atau kemahiran matematika yang perlu dimiliki oleh siswa. Pembelajarannya tidak diberikan tersendiri tetapi harus diintegrasikan dengan materi matematika. Kemahiran matematika yang disajikan secara eksplisit dalam  Kurikulum Berbasis Kompetensi dapat menjadi perhatian dan perbandingan guru untuk melakukan kegiatan pembelajaran dan penilaian hasil belajar siswa. Kecakapan matematika atau keahlian matematika yang harus dicapai siswa dalam belajar metematika mulai dari SD/MI sampai SMA/MA adalah sebagai berikut : a)  Menunjukan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan keterkaitan antara konsep dengan aplikasi konsep atau algoritma (secara hitungan) secara luwes, akurat, efektif dan tetap dalam pemecahan, b) Memiliki kemampuan mengkomunikasikan kegagalan dengan simbol, tabel, grafik, atau dugaan untuk memperjelas keadaan atau, c)  Menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menysun bukti atau menjelaskan gagasan atau pernyataan matematika, d) Menyusun kemampuan strategi dalam membuat atau merumuskan, menafsirkan dan menyelesaikan model matematika dalam pemecahan masalah, e) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.
  2. Kompetensi Dasar yang tertuang dalam standar Kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi.  Merupakan kemampuan minimal yang dapat dikembangkan oleh sekolah. Guru dapat memberikan pembelajaran dengan mengkaitkan materi-materi matematika mulai dari kelas I sampai dengan kelas 6 pada Standar Kompetensi  ini atau dapat menambah dan memperluas materi tersebut.
  3. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran matematika adalah:

a. Guru hendaknya mengkondisikan siswa untuk menemukan kembali rumus, konsep, atau prinsip dalam matematika melalui bimbingan guru agar siswa terbiasa melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu.

b. Pembelajaran matematika berfokus pada pendekatan pemecahan masalah
c. Pemecahan masalah ini mencakup masalah tertutup, mempunyai solusi tunggal, terbuka atau masalah dengan berbagai cara penyelelesian. Beberapa keterampilan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah adalah :

  • Memahami soal : memahami dan mengidetifikasikan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, diminta untuk dicari atau dibuktikan.
  • Memilih pendekatan atau strategi pemecahan : Misalnya masalah dalam bentuk diagram, memilih dan menggunakan pengetahuan aljabar yang diketahui dan konsep yang relevan untuk membentuk model atau  kalimat matematika.
  • Menyelesaikan model : melakukan oprasi hitungan secara benar dalam menerapkan strategi, untuk mendapatkan solusidari masalah.
  • Menafsirkan solusi : menerjemahkan hasil oprasi hitungan dari model atau kalimat matematika untuk menentukan jawaban dari masalah semula.

d. Pada setiap pembelajaran, guru hendaknya memperhatikan penugasan materi.

5. Untuk mengetahui tingat keberhasilan dan efesiensi suatu pembelajaran guru perlu melakukan penilaian.

6. Guru dapat menggunakan teknologi komputer, alat peraga atau media lainnya untuk meningkatkan efesiensi pembelajaran.

Menurut Hujono (2005) hal yang harus diperhatikan dalam mengajarkan matematika tingkat sekolah dasar yaitu:

  1. Siswa; Mengajar matematika untuk sebagian besar kelompok siswa berkemampuan sedang akan berbeda dengan mengajarkan matematika kepada sekelompok kecil anak-anak cerdas, sekelompok besar siswa tersebut perlu dikenalkan matematika sebagai suatu aktivitas manusia, dekat dengan penggunaan sehari-hari yang teratur secara kreatif (oleh guru) agar kegiatan tersebut disesuaikan dengan topik matematika. Untuk siswa yang cerdas, mereka akan mudah mengasimilasi dan mengakomodasi teori matematika dan masalah-masalah yang tertera dalam buku teks.
  1. Guru; Ada dua orientasi guru dalam mengajar matematika di SD sebagai berikut:                   a) Keinginan guru mengarah ke kelas sebagai keseluruhan dan sedikit perhatian individu siswa baik reaksinya maupun kepribadiannya. Biasanya mereka membatasi dirinya ke materi matematika yang distrukturkan ke logika matematika. Mengajar matematika berarti mentranslasikan sedekat-dekatnya ke teori matematika yang sama sekali mengabaikan kesulitan yang dihadapi siswa.                                                                                                       b)Guru tidak terikat ketat dengan pola buku teks dalam mengajar matematika. Ia mengajar matematika dengan melihat lingkungan sekitar bersama-sama dengan siswa untuk mengeksplore lingkungan tersebut. Kegiatan matematika diatur sedekat-dekatnya dengan lingkungan siswa sehingga siswa terbiasa dengan konsep-konsep matematika.
  1. Alat Bantu;  nMengajar matematika dilingkungan sekolah dasar, harus didahului dengan benda-benda konkret. Secara bertahap dengan bekerja dan mengobservasi, siswa dengan sadar menginterprestasikan pola matematika yang terdapat dalam benda konkret tersebut. Model konsep sebaiknya dibentuk oleh siswa sendiri. Siswa menjadi “penemu” kecil. Siswa akan merasa senang bila mereka “menemukan”.
  1. Proses Belajar;   Guru sebaiknya menyusun materi matematika sedemikian sehingga siswa dapat menjadi lebih aktif sesuai dengan tahap perkembangan mental, agar siswa mempunyai kesempatan maksimum untuk belajar.
  1. Matematika yang disajikan;   Matematika yang disajikan sebaiknya dalam bentuk bervariasi. Cara menyajikannnya sebaiknya dilandasi latar belakang yang realistik dari siswa. Dengan demikian aktivitas matematika menjadi sesuai dengan lingkungan para siswa.
  1. Pengorganisasian kelas;   Matematika sebaiknya disajikan secara terorganisasikan, baik antara aktivitas belajarnya maupun didaktiknya.  Bentuk pengorganisasian yang dimaksud adalah laboratorium matematika, kelompok siswa yang heterogen kemampuannya, instruksi, diskusi kelas dan pengajaran individu. Semua itu dapat dipilih bergantung pada situasi siswa yang pada dasarnya agar siswa belajar matematika.

 

Sumber:

 

Hudoyo, Herman. 1998. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud.

Suwangsih, Erna dan Tiurlina. 2006. Model Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI PRESS.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *