Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM)

  1. Pengertian Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat

Sains teknologi masyarakat (STM) diterjemahkan dari bahasa inggris yaitu Sains Teknology Society (STS). Model STM ini menghubungkan antara penggunaan teknologi, sains dan masyarakat. Salah satu model pembelajaran IPA yang berkaitan dengan sains dan teknologi yaitu model pembelajaran STM. Menurut Poedjiadi (Yuliariatiningsih dan Irianto, 2009:42)

Istilah Sains Teknologi Masyarakat diterjemahkan dari bahasa inggris Science Technology Society, yang pada awalnya dikemukakan oleh Jhon Ziman dalam bukunya Teaching and Learning About Science and Society. Pembelajaran Science Technology Society berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat.                                                                                                                                                                                                          Model STM merupakan model pembelajaran yang didasarkan pada masalah yang membutuhkan penyelidikan autentik yaitu penyelidikan yang membutuhkan penyelesaian nyata. Dengan mengangkat permasalahan nyata jika diselesaikan secara nyata, memungkinkan siswa memahami konsep bukan sekedar menghafal konsep. Hal ini sesuai dengan pendapat Bruner (Trianto, 2007:67) bahwa :

Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Suatu konsekuensi logis, karena dengan berusaha untuk mencari pemecahan masalah secara mandiri akan memberikan suatu pengalaman konkret.

Dari pengertian di atas, antara sains, teknologi dan masyarakat saling melengkapi, dan sangat erat kaitannya. Jadi STM adalah model pembelajaran yang dapat menciptakan manusia berkualitas dan peka terhadap masalah-masalah yang timbul di masyarakat.

2. Tujuan Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat

Model pembelajaran STM adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan suatu ide yang tengah terjadi di masyarakat sebagai topik dalam pembelajaran. STM bertujuan untuk mempersiapkan siswa yang mampu mengamalkan nilai-nilai sains, menerapkan pengetahuan ilmiah dan memecahkan masalah di lingkungan masyarakat. Dilihat dari karakteristik STM dimaksudkan untuk menyiapkan atau menghasilkan warga negara yang mampu melaksanakan atau mengambil keputusan tentang masalah-masalah aktual. Menurut Yager (Karli dan Yuliariatiningsih, 2002: 29) dalam pembelajaran model STM ada lima domain atau ranah yang dapat dikembangkan yaitu:

  • Domain konsep: memfokuskan pada muatan sains yang meliputi konsep, fakta, hukum yang merupakan hasil analitik.
  • Domain proses cara-cara yang digunakan untuk memecahkan masalah. Seperti mengamati, mengelompokan, mengukur, mengomunikasikan, memprediksi, mengendalikan, mengidentifikasikan variabel, menginterpretasikan data, merumuskan hipotesis, memberikan definisi secara operasional dan melakukan eksperimen.
  • Domain aplikasi: mengaplikasikan konsep dan keterampilan dalam memecahkan masalah sehari-hari, mengembangkan proses ilmiah dalam memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
  • Domain kreativitas: penggunaan objek-objek dan ide-ide dengan cara-cara baru memecahkan masalah dan teka-teki.
  • Domain sikap: bertujuan untuk mengembangkan sikap positif terhadap IPA dan diri sendiri, mengembangkan rasa hormat terhadap perasaan orang lain, mengekspresikan perasaan dengan cara yang konstruktif.

Kelima domain di atas saling berhubungan satu sama lain, antara konsep, proses, aplikasi, kreativitas dan sikap harus mampu dikembangkan guru dalam pembelajaran menggunakan model STM. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa ranah tersebut perlu dikembangkan pada setiap individu dalam pendidikan IPA di Indonesia (Poedjiadi, 2007: 132).

Dengan meningkatkan keterampilan kognitif termasuk berpikir tingkat tinggi, masyarakat Indonesia dapat bersaing di tingkat Internasional secara positif karena memiliki etos kerja yang tinggi dan dibiasakan untuk berpikir kritis.

Dengan melatih keterampilan proses siswa diharapkan terbiasa selalu merancang proses-proses yang perlu dilakukan untuk mencapai produk-produk ilmiah. Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari membuat siswa merasa bahwa belajar di sekolah bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungannya. Kreativitas perlu menyertai keterampilan kognitif, afektif dan psikomotor seseorang, karena selalu cepat tanggap pada situasi sekelilingnya, siswa akan selalu berpikir bagaimana memperoleh ide-ide original yang dapat disumbangkan kepada orang lain dan masyarakat. Sikap yang antara lain mencakup menyadari kebesaran Tuhan sebagai pencipta alam dan semua makhluknya membuat siswa lebih mensyukuri keadaannya dan berniat untuk berbuat baik selama hidupnya.

  1. Tahapan-Tahapan Model Sains Teknologi Masyarakat

STM menurut Yager et. Al, (Karli dan Yuliartiningsih, 2004: 29) meliputi 4 tahap. Tahap-tahap tersebut dapat dilihat pada gambar di halaman berikut.

 

Dari gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Tahap invitasi, siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang dibahas.
  • Tahap eksplorasi, siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang dirancang guru.
  • Tahap penjelasan dan solusi, saat siswa memberikan penjelasan-penjelasan solusi yang didasarkan pada hasil observasinya di tambah dengan penguatan guru, maka siswa dapat menyampaikan gagasan, membuat model, membuat rangkuman serta kesimpulan.
  • Tahap pengambilan tindakan, siswa dapat membuat keputusan, menggunakan pengetahuan dan keterampilan, berbagai informasi dan gagasan, mengajukan pertanyaan lanjutan, mengajukan saran baik bagi individu maupun masyarakat yang berhubungan dengan pemecahan masalah.

3. Hubungan Antara Sains, Teknologi dan Masyarakat

Model pembelajaran STM digunakan untuk mengasah kepribadian siswa dalam mengetahui isu-isu yang berkembang dan menemukan solusi untuk pemecahan masalahnya. Hubungan antara sains, teknologi dan masyarakat dapat dilihat dari gambar dibawah ini.

 

 

Gambar di atas dapat diartikan bahwa teknologi diciptakan pada dasarnya untuk memudahkan manusia dalam pencapaian tujuan hidup. Teknologi dibuat dengan dasar menerapkan prinsip-prinsip sains, sehingga teknologi dapat dimaknai sebagai lingkungan buatan manusia. Dalam menciptakan dan menggunakan teknologi tersebut harus memerhatikan dampak atau pengaruhnya bagi masyarakat luas. Jadi jelas antara sains, teknologi dan masyarakat adanya hubungan timbal balik dalam proses pembelajaran menggunakan model STM.

Kegiatan belajar mengajar di SD biasanya memerhatikan kondisi dan karakteristik siswa yang akan belajar. Hal ini supaya pembelajaran STM lebih menekankan siswa untuk memeroleh perubahan perilaku melalui pengetahuan dan pengalaman proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan teori belajar Gagne (Yuliariatiningsih dan Irianto 2009:8) yang menyatakan bahwa, “Belajar sebagai proses perubahan perilaku akibat pengalaman”. Oleh karena itu guru sains yang baik akan memberikan pengalaman belajar pada siswanya melalui aktivitas pengamatan, percobaan, diskusi atau tanya jawab dan meminimalisasi metode ceramah.

4.  Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat

  • Kelebihan Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat

Kelebihan dari model STM yang pertama adalah dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk mengaplikasikan konsep, keterampilan proses, kreativitas dan sikap menghargai produk teknologi serta bertanggung jawab atas masalah yang muncul di lingkungan. Kedua STM dapat membuat pengajaran sains lebih bermakna karena langsung berkaitan dengan permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dapat membuka wawasan siswa tentang peranan sains dalam kehidupan nyata. Ketiga yaitu model STM berorientasi pada hands on activitie membuat siswa dapat menikmati kegiatan sains dengan perolehan pengetahuan yang tidak mudah terlupakan. Dengan demikian dapat juga digunakan untuk menarik minat siswa dalam mempelajari sains.

  • Kelemahan Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat

Kelemahan model pembelajaran STM yaitu dilihat dari pihak guru yang cenderung mengajar seperti apa yang pernah mereka terima dari gurunya dan enggan untuk berkreasi atau berinovasi. Hal itu menjadi faktor sulitnya menerapkan model STM dalam pembelajaran. Selain itu sistem penilaian yang sering kali digunakan hanya untuk mengukur aspek kognitif. Sedangkan dalam model STM lebih menekankan pada aspek afektif dan psikomotor.

 

Sumber:

Karli, H dan  Yuliariatiningsih, M.S. (2002). Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung:Bina Medika Informasi

________________. (2004). Implementasi Pembelajaran. Bandung: Bina Media Informasi.

Poedjiadi, A. (2007). Sains Teknologi Masyarakat. Bandung: Remaja Rosdakarya

Trianto. (2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Yuliariatiningsih,M.S dan IriantoD.M. (2009). Konsep Dasar IPA di SD. Bandung: UPI PRESS.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *