Model Pembelajaran SAVI

  1. Model Pembelajaran SAVI

Ada satu yang kita ketahui dari pengalaman selama bertahun-tahun, yakni bahwa belajar sambil tidur tidak akan berhasil. Belajar berdasar aktivitas berarti bergerak aktif secara fisik ketika belajar, dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin, dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses belajar.

Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh anak berdiri dan bergerak. Akan tetapi menggabungkan gerak fisik dengan aktivitas intelektual dan pengunaan semua indera dapat berpengaruh besar terhadap pembelajaran. Pendekatan belajar seperti tersebut dinamakan dengan pendekatan SAVI. (Herdian, 2009) menyatakan bahwa:

Pembelajaran SAVI menganut aliran ilmu kognitif modern yang menyatakan belajar yang paling baik adalah melibatkan emosi, seluruh tubuh, semua indera, dan segenap kedalaman serta keluasan pribadi, menghormati gaya belajar individu lain dengan menyadari bahwa orang belajar dengan cara-cara yang berbeda.

Unsur-unsur SAVI yaitu Somatis, Auditori, Visual, Intelektual. Somatis (belajar dengan bergerak dan berbuat), Auditori (belajar dengan berbicara dan mendengarkan), Visual (belajar dengan mengamati dan menggambarkan), Intelektual (belajar dengan memecahkan masalah dan merenung). Keempat cara belajar ini harus ada agar belajar berlangsung secara optimal. Karena unsur-unsur ini semua terpadu, belajar yang paling baik bisa berlangsung jika semuanya itu digunakan secara simultan.

Belajar somatis menurut Astuti (2002: 92) adalah “Somatis berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh-soma. Belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar”. Tubuh dan pikiran itu adalah satu, untuk merangsang hubungan pikiran dan tubuh, ciptakanlah suasana belajar yang dapat membuat siswa bangkit dan berdiri dari tempat duduk dan aktif secara fisik dari waktu ke waktu. Tidak semua pembelajaran memerlukan aktivitas fisik,  tetapi dengan berganti-ganti menjalankan aktivitas belajar aktif dan pasif secara fisik, kita dapat membantu pembelajaran setiap siswa. Astuti (2002: 95) berpendapat bahwa:

Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga terus-menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa kita sadari, dan ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting di otak kita menjadi aktif.

Dalam merancang pembelajaran yang menarik saluran auditori yang kuat dalam diri pembelajar, carilah cara untuk mengajak mereka membicarakan apa yang sedang mereka pelajari. Suruh mereka menerjemahkan pengalaman mereka dengan suara. Mintalah mereka mambaca keras-keras dramatis jika mereka mau. Ajak mereka berbicara ketika memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan informasi, membuat rencana kerja, menguasai keterampilan, membuat tinjauan belajar, atau menciptakan makna-makna pribadi bagi mereka sendiri. Belajar visual menurut Astuti (2002: 95) yaitu sebagai berikut:

Meskipun ketajaman visual lebih menonjol pada sebagian orang, sangat kuat dalam diri setiap orang. Alasannya adalah bahwa di dalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual daripada semua indra yang lain.

Hal-hal yang dapat membantu pembelajaran lebih visual adalah bahasa yang penuh gambar, grafik presentasi yang hidup, benda tiga dimensi, bahasa yang dramatis, cerita yang hidup, kreasi piktogram, ikon alat bantu kerja, pengamatan lapangan, dan dekorasi warna-warni. Sejalan dengan Milawati (2011: 73):

Belajar visual dapat membantu pembelajar melihat inti masalah, karena dengan menggunakan visual maka setiap anak terutama pembelajar visual akan lebih mudah memahami jika dapat melihat apa-apa yang bicarakan gurunya.

Belajar intelektual menurut Astuti (2002: 99) adalah sebagai berikut:

kata intelektual menunjukkan apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nialai dari pengalaman tersebut. Intelektual adalah bagian diri yang merenung, mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makna.

 

Hal-hal yang dapat membantu pembelajaran lebih intelektual adalah memecahkan masalah, menganalisi pengalaman, mengerjakan pengalaman, mengerjakan perencanaan kreatif, mencari dan menyaring informasi, merumuskan pertanyaan, menerapkan gagasan baru, dan mengaplikasikan suatu gagasan.

Anak kecil adalah pembelajar yang hebat karena mereka menggunakan seluruh tubuh dan semua indera untuk belajar.

Belajar berdasarkan aktifitas berarti bergerak aktif secara fisik ketika belajar, dengan memanfaatkan indera sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses belajar. Dapatkah Anda membayangkan seorang anak kecil mempelajari sesuatu sambil duduk diruang kelas untuk jangka waktu yang lama? Yang tidak kita sadari adalah bahawa hal yang sama berlaku pula bagi kebanyakan orang dewasa. Meier (Astuti, 2002: 90-91).

Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh anak berdiri dan bergerak. Akan tetapi menggabungkan gerak fisik dengan aktivitas intelektual dan pengunaan semua indera dapat berpengaruh besar terhadap pembelajaran. Pendekatan belajar seperti tersebut dinamakan dengan pendekatan SAVI. Unsur-unsurnya mudah diingat, yaitu Somatis, Auditori, Visual, Intelektual. Meier (Arifin, 2012) mengemukakan sebagai berikut:

1) Somatic is Learning by Moving and Doing. Model belajar somatic, biasanya anak lebih suka bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan praktik (doing) secara langsung. Strategi pembelajaran yang baik bagi anak somatik adalah demonstrasi atau strategi-strategi pembelajaran yang menekankan anak bekerja secara aktif dengan seluruh tubuhnya. 2) Auditory is Learning by Talking and Hearing. Model belajar auditory, biasanya anak lebih suka bicara dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru. 3)Visual is Learning by Observing and Picturing. Model belajar visual, biasanya anak lebih suka belajar dengan mengamati dan melihat gambar. Strategi pembelajaran yang baik bagi anak visual adalah observasi atau menyampaikan materi dengan media gambar. 4) Intellectual is Learning by Problem Solving and Reflecting. Model belajar intellectual, biasanya anak lebih suka belajar dalam bentuk memecahkan masalah dan merefleksikan apa yang sudah dipelajari. Strategi pembelajaran yang baik bagi anak tipe intelektual adalah penyampaian materi dengan memberikan sebuah kasus untuk dicari solusinya/jawabannya.

Belajar dapat optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam satu peristiwa pembelajaran. Misalnya, orang dapat belajar sedikit dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi mereka dapat belajar jauh lebih banyak jika mereka dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung (S), membicarakan apa yang sedang mereka pelajari (A), dan memikirkan cara menerapkan informasi dalam presentasi tersebut pada pekerjaan mereka (I). Atau mereka dapat menigkatkan kemampuan mereka memecahkan masalah (I) jika mereka simultan menggerakkan sesuatu (S) untuk menghasilkan piktogram atau pajangan tiga dimensi (V) sambil membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan (A).

 

Sumber:

Herdian. (2009). Model Pembelajaran SAVI. [Online]. Tersedia: http://herdy07.wordpress.com/2009/04/22/model-pembelajaran-savi/. [27 Oktober 2011]

Astuti, R. (2002). The Accelerated Learning Hanbook. Bandung: Kaifa.

Milawati, T. (2011). “PENINGKATAN KEMAMPUAN ANAK MEMAHAMI DRAMA DAN MENULIS TEKS DRAMA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SOMATIS AUDITORI VISUAL INTELEKTUAL (SAVI)”. Edisi Khusus. (2), 70-78.

Arifin, Zaenal. (derizzain@yahoo.co.id). (2012, 12 Januari). Dave Meier, E-mail kepada Septiana Fajrin (djrin13@ymail.com).

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *